Minggu, 12 April 2020

Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Bisnis TI


Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan jajarannya untuk menghitung ulang risiko pelemahan ekonomi global akibat merebaknya Covid-19 yang berpotensi merembet ke Indonesia.
Dalam sambutan rapat terbatas belum lama ini, Jokowi juga menyampaikan peluang dampak ekonomi lanjutan yang lebih panjang hingga 2021 mendatang. Sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diyakini akan terkena dampak dari Covid-19.
Namun, founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin melihat, pencegahan penyebaran dampak Covid-19 bisa mendatangkan peluang usaha bagi pemain TIK, tetapi juga ancaman bagi pelaku usaha di sektor tersebut.
"Social distancing yang dilakukan pemerintah tentu mengubah perilaku sosial dan kerja masyarakat. Istilah working from home (WFH) atau distance learning menjadi familiar dan dianggap peluang bagi operator telekomunikasi di sisi trafik data," kata Doni ketika membuka Diskusi Media "Nasib Industri Telko di Tengah Disrupsi Teknologi dan Covid-19" di Jakarta, Senin (16/3/2020).
Inovasi  Unified Communication cocok untuk perusahaan mengembangkan platform pengajaran secara online. Pria yang juga dikenal sebagai pengamat telekomunikasi ini mengungkapkan, tantangan yang harus dihadapi oleh pemain TIK di tengah Covid-19 adalah soal supply chain global, khususnya untuk infrastruktur yang banyak tergantung dengan Tiongkok.
"Pemain besar infrastruktur jaringan itu kalau tidak dari Tiongkok, pabriknya ada di sana. Adanya pembatasan pergerakan manusia tentu berakibat bagi operator dalam upgrade kualitas jaringannya, minimal untuk mendatangkan ahli asing," tuturnya.
Sementara Pengamat Telekomunikasi Mastel Nonot Harsono menilai Covid-19 juga bisa memberikan hikmah bagi operator seluler di Indonesia.
Diprediksinya, wabah virus Corona ini akan menunda rencana sejumlah investasi besar dari pemain asing seperti Facebook dan Google di Indonesia.
“Keduanya sempat melakukan pendekatan ke pemerintah dengan iming-iming akan membangun infrastruktur digital. Padahal kalau mereka berdua masuk, akan mematikan bisnis operator seluler nasional yang memperoleh pendapatan dari berjualan paket data semata,” kata Nonot.
Nonot mengharapkan pemerintah memiliki kesadaran untuk mengelola disrupsi yang tengah terjadi agar yang terjadi transformasi positif di industri TIK.
Sementara Pengamat Telekomunikasi Mastel Nonot Harsono menilai Covid-19 juga bisa memberikan hikmah bagi operator seluler di Indonesia.
Diprediksinya, wabah virus Corona ini akan menunda rencana sejumlah investasi besar dari pemain asing seperti Facebook dan Google di Indonesia.
“Keduanya sempat melakukan pendekatan ke pemerintah dengan iming-iming akan membangun infrastruktur digital. Padahal kalau mereka berdua masuk, akan mematikan bisnis operator seluler nasional yang memperoleh pendapatan dari berjualan paket data semata,” kata Nonot.
Nonot mengharapkan pemerintah memiliki kesadaran untuk mengelola disrupsi yang tengah terjadi agar yang terjadi transformasi positif di industri TIK.
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Kemenkeu, BI, OJK dan LPS, melakukan assessment untuk memperkirakan skenario berat dan terberat yang mungkin akan kita hadapi akibat dari dampak Covid-19 pada ekonomi Indonesia.




Berdasarkan pemaparan Sri Mulyani, hasil dari assessment tersebut, maka untuk skenario berat, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 2,3% atau turun 3% dibanding asumsi APBN 2020. Dan skenario sangat berat adalah ekonomi Indonesia dapat mengalami penurunan atau minus 0.4%.
Perubahan prioritas konsumen tergambar dari data yang menunjukkan bahwa ada peningkatan pembelian konsumen di bisnis hasil-hasil agrikultur seperti hasil perkebunan, air konsumsi, toko daging, dan toko buah serta sayur. Angka pertumbuhannya bahkan mencapai 430%. Begitu pun dengan toko bahan-bahan pangan yang meningkat sebesar 200% terhitung sejak awal Maret 2020.
Penyebaran virus Covid-19 memberikan dampak bagi pelaku UMKM di Indonesia. Salah satunya yaitu, Amin S Sutimin yang memiliki bisnis lentera hias Aneka Jaya Glass di Jakarta. Amin mengaku transaksi yang ia dapatkan menurun secara tiba-tiba sejak Januari 2020.
“Kerasa sih karena virus corona, nggak tahu kenapa tiba-tiba transaksi kita sejak Januari turun 20 persen,” ujarnya. Amin mengatakan dalam sebulan omzet biasanya mencapai Rp 100 juta. Omzet itu diperoleh lantaran Ia mengekspor produknya ke Amerika Serikat dan Australia.
Tak hanya itu sektor pariwisata dan perdagangan juga mengalami penurunan yang drastis, terutama bagi para pedagang kaki lima yang sudah tidak bisa berdagang akibat diberlakukannya pembatasan sosial, dan juga transportasi online.
Pekerja migran pun menjadi korban dari sulitnya melintasi perbatasan di masa pandemi. Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan, sekitar 33 juta pekerja migran di kawasan Asia dan Pasifik terkena dampaknya. Di pihak lain, dana remitansi menjadi kontributor yang cukup signifikan bagi beberapa negara di kawasan ini. Berdasarkan data remitansi tenaga kerja Indonesia (TKI) oleh Bank Indonesia, nilai yang tercatat pada 2019 adalah sebesar US$11,435 miliar. Dengan semakin berkurangnya penumpang lintas negara, maskapai-maskapai internasional pun memangkas rute penerbangannya. Maskapai asal Hong Kong, Cathay Pacific menyunat 40% jadwal penerbangannya. Sebanyak 33 ribu karyawan harus cuti tanpa dibayar hingga Juni 2020, dengan kemungkinan diperpanjang. Maskapai nasional Jerman, Lufthansa pun melaporkan pemangkasan 50% rute. Seperti Cathay Pacific, Lufthansa berupaya menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan kebijakan cuti tanpa gaji. Di Amerika Serikat (AS), United Airlines memangkas penerbangan domestik sebanyak 20% serta ke Kanada sebesar 10%. Sedangkan JetBlue mengurangi penerbangannya sebesar 5%. Kedua maskapai ini pun terpaksa merumahkan karyawan hingga waktu yang belum ditentukan. Dengan seruan untuk tinggal di rumah, pariwisata global praktis lumpuh. World Travel and Tourism Council (WTTC) memperkirakan, sektor pariwisata akan mengalami penyusutan hingga 25% akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Kondisi itu juga berarti sekitar 50 juta orang akan kehilangan pekerjaan mereka di sektor jasa tourism tersebut. "Wabah ini menghadirkan ancaman serius terhadap industri pariwisata,” kata Direktur WTTC Gloria Guevara, dikutip BBC. Di Indonesia saja, sebanyak 1.174 hotel dan 286 restoran tutup per 1 April 2020. Akibatnya, ribuan karyawan mereka terpaksa dirumahkan. “Sektor-sektor bisnis yang membutuhkan kehadiran menjadi korban Covid-19,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani.

Sumber :
·         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar