Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan jajarannya untuk
menghitung ulang risiko pelemahan ekonomi global akibat merebaknya Covid-19
yang berpotensi merembet ke Indonesia.
Dalam sambutan rapat terbatas belum lama ini, Jokowi juga
menyampaikan peluang dampak ekonomi lanjutan yang lebih panjang hingga 2021
mendatang. Sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diyakini akan
terkena dampak dari Covid-19.
Namun, founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin melihat, pencegahan
penyebaran dampak Covid-19 bisa mendatangkan peluang usaha bagi pemain TIK,
tetapi juga ancaman bagi pelaku usaha di sektor tersebut.
"Social distancing yang dilakukan pemerintah tentu mengubah perilaku
sosial dan kerja masyarakat. Istilah
working from home (WFH) atau
distance
learning menjadi familiar dan dianggap peluang bagi operator
telekomunikasi di sisi trafik data," kata Doni ketika membuka Diskusi
Media "Nasib Industri Telko di Tengah Disrupsi Teknologi dan
Covid-19" di Jakarta, Senin (16/3/2020).
Inovasi
Unified Communication cocok
untuk perusahaan mengembangkan platform pengajaran secara online. Pria yang
juga dikenal sebagai pengamat telekomunikasi ini mengungkapkan, tantangan yang
harus dihadapi oleh pemain TIK di tengah Covid-19 adalah soal
supply chain
global, khususnya untuk infrastruktur yang banyak tergantung dengan Tiongkok.
"Pemain besar infrastruktur jaringan itu kalau tidak dari Tiongkok,
pabriknya ada di sana. Adanya pembatasan pergerakan manusia tentu berakibat
bagi operator dalam
upgrade kualitas jaringannya, minimal untuk
mendatangkan ahli asing," tuturnya.
Sementara Pengamat Telekomunikasi Mastel Nonot Harsono menilai Covid-19 juga
bisa memberikan hikmah bagi operator seluler di Indonesia.
Diprediksinya, wabah virus Corona ini akan menunda rencana sejumlah
investasi besar dari pemain asing seperti Facebook dan Google di Indonesia.
“Keduanya sempat melakukan pendekatan ke pemerintah dengan iming-iming akan
membangun infrastruktur digital. Padahal kalau mereka berdua masuk, akan
mematikan bisnis operator seluler nasional yang memperoleh pendapatan dari
berjualan paket data semata,” kata Nonot.
Nonot mengharapkan pemerintah memiliki kesadaran untuk mengelola disrupsi
yang tengah terjadi agar yang terjadi transformasi positif di industri TIK.
Sementara Pengamat Telekomunikasi Mastel Nonot Harsono menilai Covid-19 juga
bisa memberikan hikmah bagi operator seluler di Indonesia.
Diprediksinya, wabah virus Corona ini akan menunda rencana sejumlah
investasi besar dari pemain asing seperti Facebook dan Google di Indonesia.
“Keduanya sempat melakukan pendekatan ke pemerintah dengan iming-iming akan
membangun infrastruktur digital. Padahal kalau mereka berdua masuk, akan
mematikan bisnis operator seluler nasional yang memperoleh pendapatan dari
berjualan paket data semata,” kata Nonot.
Nonot mengharapkan pemerintah memiliki kesadaran untuk mengelola disrupsi
yang tengah terjadi agar yang terjadi transformasi positif di industri TIK.
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Komite Stabilitas Sektor Keuangan
(KSSK) yang terdiri dari Kemenkeu, BI, OJK dan LPS, melakukan
assessment untuk
memperkirakan skenario berat dan terberat yang mungkin akan kita hadapi akibat
dari dampak Covid-19 pada ekonomi Indonesia.
Berdasarkan pemaparan Sri Mulyani, hasil dari
assessment tersebut,
maka untuk skenario berat, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 2,3% atau turun
3% dibanding asumsi APBN 2020. Dan skenario sangat berat adalah ekonomi
Indonesia dapat mengalami penurunan atau minus 0.4%.
Perubahan prioritas konsumen tergambar dari data yang menunjukkan bahwa ada
peningkatan pembelian konsumen di bisnis hasil-hasil agrikultur seperti hasil
perkebunan, air konsumsi, toko daging, dan toko buah serta sayur. Angka
pertumbuhannya bahkan mencapai 430%. Begitu pun dengan toko bahan-bahan pangan
yang meningkat sebesar 200% terhitung sejak awal Maret 2020.
Penyebaran virus Covid-19 memberikan dampak bagi pelaku UMKM di Indonesia.
Salah satunya yaitu, Amin S Sutimin yang memiliki bisnis lentera hias Aneka
Jaya Glass di Jakarta. Amin mengaku transaksi yang ia dapatkan menurun secara
tiba-tiba sejak Januari 2020.
“Kerasa sih karena virus corona, nggak tahu kenapa tiba-tiba transaksi kita
sejak Januari turun 20 persen,” ujarnya. Amin mengatakan dalam sebulan omzet
biasanya mencapai Rp 100 juta. Omzet itu diperoleh lantaran Ia mengekspor
produknya ke Amerika Serikat dan Australia.
Tak hanya itu sektor pariwisata dan perdagangan juga mengalami penurunan
yang drastis, terutama bagi para pedagang kaki lima yang sudah tidak bisa
berdagang akibat diberlakukannya pembatasan sosial, dan juga transportasi online.
Pekerja migran pun menjadi korban
dari sulitnya melintasi perbatasan di masa pandemi. Organisasi Buruh
Internasional (ILO) memperkirakan, sekitar 33 juta pekerja migran di kawasan
Asia dan Pasifik terkena dampaknya. Di pihak lain, dana remitansi menjadi
kontributor yang cukup signifikan bagi beberapa negara di kawasan ini.
Berdasarkan data remitansi tenaga kerja Indonesia (TKI) oleh Bank Indonesia,
nilai yang tercatat pada 2019 adalah sebesar US$11,435 miliar. Dengan semakin
berkurangnya penumpang lintas negara, maskapai-maskapai internasional pun
memangkas rute penerbangannya. Maskapai asal Hong Kong, Cathay Pacific menyunat
40% jadwal penerbangannya. Sebanyak 33 ribu karyawan harus cuti tanpa dibayar
hingga Juni 2020, dengan kemungkinan diperpanjang. Maskapai nasional Jerman,
Lufthansa pun melaporkan pemangkasan 50% rute. Seperti Cathay Pacific,
Lufthansa berupaya menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan kebijakan
cuti tanpa gaji. Di Amerika Serikat (AS), United Airlines memangkas penerbangan
domestik sebanyak 20% serta ke Kanada sebesar 10%. Sedangkan JetBlue mengurangi
penerbangannya sebesar 5%. Kedua maskapai ini pun terpaksa merumahkan karyawan
hingga waktu yang belum ditentukan. Dengan seruan untuk tinggal di rumah,
pariwisata global praktis lumpuh. World Travel and Tourism Council (WTTC)
memperkirakan, sektor pariwisata akan mengalami penyusutan hingga 25% akibat
pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Kondisi itu juga berarti sekitar 50 juta
orang akan kehilangan pekerjaan mereka di sektor jasa tourism tersebut.
"Wabah ini menghadirkan ancaman serius terhadap industri pariwisata,” kata
Direktur WTTC Gloria Guevara, dikutip BBC. Di Indonesia saja, sebanyak 1.174
hotel dan 286 restoran tutup per 1 April 2020. Akibatnya, ribuan karyawan mereka
terpaksa dirumahkan. “Sektor-sektor bisnis yang membutuhkan kehadiran menjadi
korban Covid-19,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi
Sukamdani.
Sumber :
·